Makassar – International Jazz Day 2014

MIJD2014

Kali Ke-3 Peringati Hari Jazz Dunia

Secara hampir bersamaan, seluruh dunia merayakan Hari Jazz Dunia – International Jazz Day pada 30 April 2014. Pusat perayaan tahun ini diselenggarakan oleh UNESCO di Osaka – Jepang dengan penampilan para musisi jazz dunia. Tak ketinggalan Makassar, yang sejak tahun pertama selalu menyelenggarakan event ini.

Senja belum lama berganti malam. Pada Minggu, 27 April 2014, ruang lounge Swiss-Belinn Panakkukang, Makassar, yang terletak di lantai dua,  tampak mulai riuh-rendah. 100-an pengunjung  terlihat duduk dan mengobrol di meja berbagai bentuk dan ukuran. Diatur sedemikian rupa, dalam dan area luar lounge itu. Cahaya lampu yang mengitarinya bersinar temaram saja kecuali sejumlah spot light warna-warni  yang ada di panggung, memancarkan cahaya lumayan terang, menempel di high ceiling sekaligus pemberi kesan lapang.  Di atas panggung,  berupa stepping setinggi sekitar 15 cm, lima orang  tengah sound check alat musik miliknya masing-masing, termasuk seorang  vokalis, atau mungkin seorang audio man,  memeriksa mikropon dengan berucap “check… check!”, berulang-ulang. Di back drop panggung  berwarana biru gelap menempel tulisan berwarna putih: Makassar International Jazz Day 2014. Makassar International Jazz Day 2014 yang ke-3 ini, meneruskan acara yang sama tahun sebelumnya, 2013  (ruang Plaza, Swiss-Belinn), dan 2012 (Sao Eating Point, Mall Ratu Indah).

Jarum jam menunjuk angka 19.23,  Moexin, mendapat kesempatan sebagai penampil pertama.   3 nomor yang mereka mainkan, dua di antaranya hasil karya mereka sendiri, Ethnocology dan Always Love. Mereka agaknya sangat  memahami bahwa unsur lokal juga menjadi bagian dari heritage dunia. Karenanya,  Moexin dan kawan-kawan juga memainkan nomor abadi dari tanah Makassar, Anging Mammiri (ciptaan Bora Dg Irate) featuring Yogi pada sax, salah seorang saxophonis senior yang dipunyai Makassar, yang bercita rasa nge-jazz.  Tak ayal, permainan saxophone Yogi memberi aksen jazz di nomor ini meningkahi gaya bermain Moexin  dengan sentuhan rock yang cukup menonjol.  Di bagian ini Yogi diberi kesempatan sebagai solis dan mendapat aplaus penonton.   Terdengar, kemampuan pendengaran Yogi mengetahui dan mengidentifikasikan nada yang amat sempurna, juga teruji (absolute pitch).

Perhatian pengunjung tiba-tiba beralih lalu terdiam ketika seorang wanita  pembawa  acara, selanjutnya mendaulat Yosi Nahwi Rasul, salah satu penggagas acara dari Makassar Media One selaku organizer untuk memberikan opening speech sebagai penanda dimulainya event memperingati Hari Jazz se-Dunia,  yang  dideklarasikan oleh sebuah organisasi PBB, Unesco sebagai salah satu heritage dunia atau cagar seni budaya, di Paris 2011 silam itu. Diperingati 30 April setiap tahunnya. Mengapa jazz, bukan rock atau blues, misalnya?


“Musik jazz dipandang sebagai musik yang menempatkan kebersamaan dan kesetaraan (equality and unity) di posisi tertinggi. Tanpa menafikan genre musik lainnya, untuk menikmati musik jazz  kita tak perlu tereak histeris penuh emosi, sembari jemari menggenggam botol atau mengenakan aksesoris aneh mengcolok, misalnya. Jazz adalah juga simbol perdamaian dan tentu saja kedamaian,”  timpal Yosi selaku chairman sekaligus penggagas pertunjukan. Sebagai seorang mantan penyiar radio, ia tak begitu sulit menarik perhatian saat mengajak penonton menyaksikan penampil pertama, “Ayo, dong… Kita nikmati musik jazz ini dengan damai!” ajaknya, disambut tepuk tangan hadirin.

Usai Moexin dan opening speech, kini giliran penampil kedua. Mr. Azman bersama kelompoknya masih mencoba padukan jazz dengan rock, tapi kali ini dengan corak sound yang agak klasik. Pilihannya adalah Little Wing (Jimi Hendrix, 1967) dan Kujemu milik Koes Plus. Jadinya, permainan mereka menguak memori kita ke 30-an tahun silam. Penonton terdiam sepersekian detik, lalu memberi apresiasi saat Mr. Azman dkk menuntaskan performance-nya.

MIJD2014-03

Mr. Azman


Penampil berikutnya: Dengan motor seorang anak lelaki yang masih belia (16 thn), namun lengkingan elektrik gitarnya meliuk dan meraung (bending note) bagai seorang musisi yang sudah manggung puluhan tahun. Mereka menamakan diri sebagai Blues Experience, mirip-mirip dengan  group musik milik Jimi Hendrix, The Jimi Hendrix Experience.  Dikomandani Fachran guitar 1, Fachri guitar 2, Fauzan vocal, Fauzi bass dan Fadil drums,  anak belasan tahun itu, para generasi pelanjut ini mencoba mengawinkan (fusion) musik jazz dengan musik yang menjadi spesialisasinya,  blues, tembang rohani Afro-American yang konon menjadi akar dari musik jazz. Salah satu nomor penutup yang dimainkan, yakni Rock N Roll milik Led Zeppelin (berdiri di Inggris Raya, 1968), group musik rock sama seperti Ten Years After atau John Mayall yang kerap menyelipkan warna blues  ke dalam repertoire rock mereka.  Jari-jari lentik Farhan menari lincah di atas dawai gitar listriknya, menghasilkan suara berat dan keras mencoba menginterpretasi nuansa blues ke Rock N Roll (Robert Plan, 1971). Jika menutup mata, seolah  mendengar  Jimmy Page atau Robert Plant. Paling tidak The Gugun Blues Shelter.    Lagi-lagi, Blues Experience mendapat applause yang amat meriah. “Kecil-kecil sudah menggemaskan…,” bisik seorang penonton wanita yang terpaksa berdiri di salah satu sudut lounge, karena semua kursi penuh.

MIJD2014-02

Blues Experience

Malam mulai jauh menapaki jalannya. The last but not list. Penampil terakhir, akhirnya datang juga Mangara Jazz Project.  Andi Mangara pada perkusi sebagai motornya, serta Yuli pada lead vocal, Mangara  memainkan nomor –nomor jazz standar, di antaranya Come with Me Now  (Tania Maria), Fly Me to The Moon atau In Other Words (Bart Howard, 1954-Franks Sinatra, 1964), Sinaran (Sheila Madjid, 1997)  dan Just  the Two Of Us (Bill Withers-Grover Washington, 1981). Seperti biasa, Mangara meneruskan tradisi bermain musik jazz: Jam session dan solo instrument agar lebih dekat dengan audiens. Dua orang penonton diajak tampil bersamanya. Iwan pada drum dan Wawan pada bass untuk nomor Georgy Porgy (TOTO). Pak Wawan, begitu ia biasa disapa, General Manager Swiss-Belinn, Makassar ini diberi kesempatan untuk solo bass dengan menggunakan teknik slapping dan popping, memetik senar dengan cara menampar menggunakan ibu jari.  Serasa menyaksikan Stanley Clark saja….

Sama dengan Penampilan Moexin, Mangara Jazz Peroject juga memilih satu lagu berlirik Makassar: Cincing Banca. Dengan mempercepat tempo, accelerando, ciptaan Rahman Hakim dan Arsyad Basir ini mereka balut dengan kemasan funky jazz. Rancak sangat….

“Rahman Hakim dan Arsyad Basir mungkin tak pernah mengira lagu ciptaannya akan berpadu dengan jazz, he-he-he…,” Yosi yang mendengar Cincing Banca, mencanda teman-temannya, termasuk dari MAKASSAR NOW!.   Bersamanya,  terlihat Yuliarto bersama isteri, dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Wawan-GM Swiss-Belinn Makassar, Nita dari Cancer Care Community, Lisa Mochtar dan Yessie Tendean, Darul Aqsa dan Jerry Toisa dari Makassar Media One, EO yang menggelar hajatan ini.

Malam kian merangkak jauh, udara dingin mulai mengulik kulit. Mangara Jazz Project segera menuntaskan pertunjukannya, dengan nomor pamungkas. Yuli, lead  vocal, membawa penonton ke suasana agak romantis, sesekali ditingkahi permainan Arshal pada elektrik piano menyusupkan nuansa swing di bagian interlude, mengingatkan kita akan seorang Herbie Hancock, pianis dan komposer Amerika, lahir 1940,  Duta Jazz, pemberi inspirasi digelarnya Hari Jazz se-Dunia.

Kita tentu berharap, April 2015 kelak Makassar International Jazz Day dapat digelar di tempat yang lebih menunjukkan roh musik jazz itu sendiri,  setara,  bersama dan terbuka , semua kalangan dapat menyaksikannya.

…. and darling when the morning comes

And I see the morning sun

I want to be the one with you.

Just the two of us….

(Bill Withers-Grover Washington, 1981)